![]() |
| M. Tajudin (Kanan) |
Oleh:
M. Tajudin
Lombok
Barat, PolitikNTB.Com-Pemangkasan Dana Desa sampai 60 persen jelas bukan soal
sepele. Buat desa, ini bukan cuma angka di kertas APBN, tapi langsung terasa di
lapangan. Desa tetap diminta melayani warga, membangun ‘ini-itu’, menenangkan
situasi sosial di lapangan, sambil anggarannya dibonsai.
Di
banyak tempat di Indonesia, akhirnya desa yang kena semprot warga. Padahal,
ruang geraknya memang makin sempit.
Di
tengah kondisi seperti itu, Lombok Barat memilih tidak ikut-ikutan mengeluh.
Pemerintah daerah mencoba jalur lain lewat skema Sejahtera dari Desa. Bukan solusi
sakti, tapi setidaknya sebuah upaya yang masuk akal dan kontekstual di tengah
diet fiskal nasional.
Yang
bikin pendekatan ini terasa beda, Sejahtera dari Desa tidak dimulai dari daftar
proyek. Tidak ada paket kegiatan seragam yang dipaksa masuk ke desa. Logikanya
dibalik: yang dilihat pertama justru persoalan desa.
Lewat
Kamus Usulan, masalah-masalah di desa dikumpulkan,
dipetakan, lalu dicocokkan dengan prioritas daerah dan intervensi OPD.
Singkatnya, bukan desa yang mengejar anggaran, tapi anggaran yang diarahkan
mengikuti masalah desa.
Cara
ini pelan-pelan mengembalikan fungsi musyawarah desa. Musdes dan Musrenbang
Desa tidak lagi sekadar formalitas tahunan, tapi benar-benar jadi ruang
menyampaikan kebutuhan. Setidaknya, usulan desa masih punya ‘alamat’ yang jelas
dalam perencanaan daerah.
Entah
ini kebetulan atau memang hasil keberanian kebijakan, Sejahtera dari Desa
memberi napas tambahan bagi desa-desa di Lombok Barat. Beban pembiayaan tidak
lagi sepenuhnya ditumpukan ke Dana Desa yang makin tipis, tapi dibagi ke
OPD-OPD sebagai pelaksana intervensi.
Desa-desa
di Lombok Barat terlihat relatif “aman”. Program sosial masih ada, pembangunan
tetap jalan, dan kegiatan pemerintah masih terasa. Padahal sebenarnya ada
pergeseran penting yaitu tanggung jawab anggaran dan pelaksanaan banyak
berpindah ke OPD, sementara desa tetap berada di posisi penentu arah dan
prioritas.
Sejahtera
dari Desa bisa dibilang menyelamatkan desa di Lombok Barat dari kelumpuhan
total. Desa tidak lagi diposisikan sebagai korban pemangkasan anggaran, tapi
sebagai titik awal perencanaan pembangunan daerah. Meski tidak memegang kas,
desa masih punya suara.
Kalau
ditarik lebih luas, Lombok Barat memberi contoh bahwa diet fiskal tidak selalu
harus dibalas dengan sikap pasrah. Dengan sedikit kreativitas dan keberanian
menabrak sekat sektoral, kebijakan alternatif tetap bisa dirancang.
Desa
dan Kota
Tantangan
berikutnya adalah menjaga keseimbangan antara Sejahtera dari Desa dan
pembangunan skala kabupaten. Jangan sampai penguatan desa dianggap berlawanan
dengan pembangunan kota atau kawasan wisata.
Pembangunan
Alun-alun Kota Gerung dan revitalisasi Kawasan Senggigi sering dipersepsikan
sebagai proyek pencitraan. Tapi kalau ditaruh dalam kerangka yang tepat,
keduanya justru menjadi pengungkit desa.
Alun-alun
Kota Gerung hari ini tidak cuma soal taman dan lampu hias. Ia bisa jadi ruang
ekonomi rakyat, tempat produk desa dipajang, panggung seni lokal, sampai titik
kumpul UMKM desa. Dalam posisi ini, desa bukan penonton, tapi pemain yang
mengisi denyut ekonomi kota.
Begitu
juga dengan Senggigi. Kawasan wisata ini idealnya tidak berdiri sendiri.
Desa-desa di sekitarnya justru punya peran besar: tenaga kerja, produk lokal,
jasa wisata berbasis komunitas, sampai cerita budaya yang membuat pariwisata
punya rasa.
Program
Desa Satu Data ikut memperkuat arah ini. Dengan pemetaan
potensi yang lebih rapi, desa punya peluang lebih besar masuk ke rantai nilai
ekonomi kabupaten. Tidak lagi sekadar jadi latar belakang pembangunan.
Keseimbangan
ini penting supaya pembangunan Lombok Barat tidak berat sebelah. Kota dan
kawasan wisata bergerak di hilir, missal promosi, konektivitas, dan pasar. Sementara
desa diperkuat di hulu, yakni produksi berbasis ekonomi.
Kalau
dua arah ini benar-benar ketemu, Sejahtera dari Desa tidak akan berhenti
sebagai slogan. Ia bisa jadi strategi nyata, bahwa desa hidup, kota bergerak,
dan manfaat pembangunan tidak muter di situ-situ saja. Bila semua hal
itu berjalan dengan baik, maka di
situlah simpul Sejahtera dari Desa benar-benar terasa untuk Kabupaten
Lombk Barat taercinta.


0Komentar