TpdoGSGpGSriTfMlGpGlBSziTY==
Light Dark
Hidupkan Gus Dur, Lakpesdam NU NTB Undang Zastrow

Hidupkan Gus Dur, Lakpesdam NU NTB Undang Zastrow

Daftar Isi
×

 



Mataram, PolitikNTB.Com-Lakpesdam PWNU NTB menggelar diskusi publik bertajuk “Mengenal Gus Dur Lebih Dalam, Kado Buat Sang Pahlawan” pada Selasa, 18 November 2025, pukul 16.00 WITA di Aula Kantor PWNU NTB, Mataram. Acara yang terbuka untuk umum ini dipandu oleh moderator Agus Dedi Putrawan dan menghadirkan tiga narasumber utama yakni Dr. Ngatawi Al-Zastrow, Prof. Dr. H. Jumarim, serta Prof. Dr. TGH Masnun Tahir. Kehadiran para tokoh ini membuat diskusi berlangsung hangat, dinamis, dan sarat refleksi mengenai warisan pemikiran KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur.

Acara dibuka dengan sambutan Prof. Dr. H. Jumarim, yang menegaskan pentingnya kembali membaca pemikiran Gus Dur di tengah situasi sosial-politik yang banyak diwarnai ketegangan identitas. Menurutnya, Gus Dur selalu hadir sebagai cahaya moral bagi bangsa Indonesia, dan forum seperti ini menjadi ruang penting untuk menjaga kontinuitas gagasan-gagasannya di lingkungan Nahdlatul Ulama maupun ruang publik yang lebih luas.

Sesi inti menghadirkan Dr. Ngatawi Al-Zastrow, budayawan sekaligus mantan asisten pribadi Gus Dur, yang menjabarkan dengan luas genealogi agama dan tipologi para penganutnya. Menjawab pertanyaan peserta terkait persaingan agama, sains, dan budaya dalam membaca realitas, Zastrow menyatakan bahwa ketika agama tak lagi mampu memberi jawaban, dan sains pun gagal memuaskannya, budaya datang mengolah remah-remah yang tertinggal menjadi nilai hidup yang lebih dekat dengan manusia. Ia menekankan pentingnya sikap keterbukaan seorang tradisionalis dengan berkata, “Kita harus bisa berenang di antara pengaruh luar, jangan membangun tembok. Kalau tembok itu dibangun, nanti jebol atau malah diintip,” disambut riuh tawa peserta.

Dalam paparan yang mengambil inspirasi dari cara Gus Dur membaca bangsa ini, Zastrow menyampaikan metafora khas bahwa Indonesia ibarat perempuan janda yang memiliki anak bernama “anak bangsa”, sementara banyak “om-om” jahat mencoba merampas, menguasai, dan mengeksploitasi masa depannya. Dalam situasi itu, kata Zastrow, NU hadir sebagai penjaga yang memastikan martabat dan keutuhan keluarga besar bernama Indonesia tetap terpelihara. Penjelasan ini mengajak peserta melihat bahwa perjuangan Gus Dur tidak hanya berupa gagasan, tetapi sikap keberpihakan moral yang nyata terhadap kemanusiaan.

Diskusi ditutup dengan pernyataan penutup dari Prof. Dr. TGH Masnun Tahir, yang menyampaikan pesan dengan gaya humoris khasnya, ringan, cerdas, namun tetap menyentuh inti persoalan. Ia mengingatkan bahwa meneladani Gus Dur tidak harus dengan wajah tegang atau bahasa rumit, tetapi melalui cara hidup yang lentur, waras, dan penuh kebaikan. Ia juga mengajak peserta memelihara ‘sopan santun keilmuan’, keberanian moral, serta selera humor yang dulu menjadi kekuatan Gus Dur dalam menghadapi ketidakadilan.

Melalui diskusi ini, Lakpesdam PWNU NTB berharap spirit Gus Dur terus hidup bukan sekadar sebagai kenangan, tetapi sebagai energi kebudayaan yang menuntun bangsa agar tetap tegak, ramah, dan manusiawi. Nilai-nilai Gus Dur diharapkan terus dirawat dan diwujudkan dalam tindakan nyata demi menjaga Indonesia sebagai rumah besar bagi semua.

 

0Komentar

Special Ads